Asal Usul Nama Beji dan Sumur Keramat di Kota Depok


Jakarta – Tak semua warga Depok tahu asal usul sebuah daerah di dekat Universitas Indonesia (UI), yang diberi nama Beji. Tak banyak yang tahu pula bahwa di Beji terdapat tujuh sumur keramat yang airnya berasal dari mata air dan dijadikan cagar budaya.

Ternyata penamaan daerah Beji dan keberadaan tujuh sumur keramat diyakini oleh penduduk asli saling berkaitan. Kisahnya berawal dari penyebaran agama Islam oleh seorang tokoh di Kota Depok.

“Jadi ini (sumur) peninggalan auliya (wali Allah),” kata Ketua RT 001 RW 012 Kelurahan Beji Kecamatan Beji Depok Jawa Barat M Satiri.

“Karena dulu di Depok ini hutan dan di dataran bawahnya persawahan. Saat musim kemarau, sawah di sini kering sehingga seorang auliya bernama Mbah Raden Ujud Beji semedi minta sama Yang Kuasa untuk dikeluarkan air dari tanah, untuk mengairi sawah-sawah,” sambung dia.

Pantauan di Sumur Keramat ke-1, sumur yang dimaksud Satiri tak terlihat seperti sumur pada umumnya, yang berbentuk tabung raksasa bertembok batu atau semen. Permukaan sumur tersebut berbentuk kolam persegi dan dasarnya dipenuhi tumbuhan lumut.

Air di dalamnya terlihat sangat jernih bahkan dapat merefleksikan bayangan benda di atas permukaannya dengan sangat jelas jika terdapat siraman cahaya. Di sumur tersebut, berenang ikan-ikan kecil pemakan lumut.

Satiri sebagai keturunan ke-3 sesepuh Beji Engkong Si’in, bercerita doa Mbah Raden Ujud Beji dikabulkan Allah lewat munculnya tujuh mata air yang tersebat di Kelurahan Beji.

Mbah Raden Ujud Beji adalah auliya asal Cirebon yang menyiarkan agama Islam di Depok. Ia yang menjadi buronan tentara Belanda saat jaman penjajahan dan lari ke dalam hutan dan pemukiman pedagang Tionghoa untuk bersembunyi. Ia kemudian mendirikan sebuah padepokan untuk mengajarkan nilai-nilai ke-Islaman.

“Dia adalah salah satu tokoh Islam di Depok. Penyebar agama Islam. Beliau aslinya perantauan Cirebon yang bermusafir hingga ke sini. Saat dikejar Belanda, Mbah Raden Ujud Beji selamat, karena dia masuk ke hutan dan ke pemukiman warga Tionghoa yang sekarang disebut Pondok Cina,” jelas Satiri.

Satiri kemudian mengajak berkeliling ke enam sumur lainnya. Ia juga menunjukan bukti keberadaan Mbah Raden Ujud Beji lainnya yaitu sebuah makan keramat dan bangunan yang dulunya difungsikan sebagai padepokan.

“Ini adalah cerita versi saya sebagai penduduk asli sini dan pelestari Cagar Budaya Sumur 7. Ketujuh sumurnya berads tersebar tapi masih di kawasan kelurahan yang sama,” ujar pria 48 tahun, yang sehari-hari menjaga Cagar Budaya Sumur 7 ini.
Berikut lokasi Sumur 7 Mbah Raden Ujud Beji:

– Sumur ke 1 di Jalan Kopo Beji Depok

– Sumur ke 2 di belakang Masjid Hidayatullah RT 5 RW 1 Beji Depok

– Sumur ke 3 di Jalan Pulo Jaya

– Sumur ke 4 di sebelah TPU Keramat Beji

– Sumur ke 5, 6 dan 7 di dalam komplek Masjid Nurussalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s